Selamat Datang Cinta !! ^_^

Assalamu’alaikum wr.wb. Alhamdulillah,,huhuhu,,akhirnya bisa juga bikin blog. Walaupun tidak sebagus punya temen2 yang lain, tapi gakpapa.. Sedikit demi sedikit nanti diperbaiki..Mohon bimbingannya ya,, SELAMAT DATANG CINTA !! Selamat datang sahabatku,, Sahabatku yang selalu hidup dengan cinta,, Sahabatku yang selalu menjalani hidup karena cinta,, Sahabatku yang selalu disemangati oleh cinta,, Sahabatku yang selalu mencintaiku karena cinta,, Cinta paling tulus yang dimiliki setiap insan Illahi,, Cinta dari Allah,, Cinta untuk Allah,, Dan Cinta karena Allah,, Bismillahirrohmanirrahiim,, Luruskan niat, Lillahita’ala, di setiap langkah yang kita ambil,, Jangan biarkan satu detik pun terlewat tanpa makna pahala.. Semoga celoteh kecil saya disini dapat memberi manfaat bagi semua,,walaupun hanya sedikit.. Dambaan setiap manusia ialah menjadi sebaik-baik manusia, yakni manusia yang senantiasa dapat bermanfaat bagi yang lain.. Amin,,217X Terakhir,,SELAMAT MEMBACA !! Kritik dan saran sangat sangat diharapkan demi perbaikan ke depan.. Syukron,, Wassalamu’alaikum wr.wb. sakur46url_008@yahoo.com

Melukis Pelangi

Filed under: Uncategorized — nurfita at 10:44 pm on Tuesday, October 27, 2009

 

jangan merasa sudah matang, karena esok anda akan membusuk.. selalu merasa hijau maka esok anda akan berkembang..” (NLP modul)

Pilihan hidup seorang manusia selalu membawa sebuah konsekuensi. Dan sejatinya konsekuensi itulah yang harus kita hadapi. Kita tidak akan disibukkan dengan banyaknya pilihan, tapi kita akan direpotkan dengan konsekuensi yang ada dari sebuah pilihan itu.

Hingga kemudian manusia hanya bisa berencana, dan keputusan tetap menjadi hak prerogratif Allah Azza wa Jalla. Dan kita selalu memilih jalan yang menurut kita adalah yang terbaik bukan? Walau tidak selamanya pilihan kita itu ternyata bertemu dengan sebuah kegembiraan. Tidak jarang pilihan itu bertemu dengan sebuah kekecewaan. Berjuta kali kita mendeklarasikan bahwa kita mencintai kekecewaan, tapi tidak akan pernah sanggup mengubah cita rasa dari sebuah kekecewaan. Kekecewaan itu pahit. Kepahitan yang harus kita telan bulat-bulat.

Siapa yang menjadikan sebuah kejadian itu adalah baik, dan sebuah kejadian itu adalah buruk? Bukankah sebenarnya kita sendiri yang menjadikan sebuah kejadian itu baik, dan sebuah kejadian itu buruk. Ya. Bukankah kita sendiri? Hati? Pikiran kita?

Semua kejadian yang menimpa diri kita, kejadian di sekeliling kita, bukankah seharusnya mereka bersifat netral? Lalu kenapa sebuah kejadian sanggup menciptakan senses menggembirakan, menyedihkan, menyakitkan hati, mengecewakan, dan marah? MINDSET. OUR BEAUTIFUL MIND.

Tapi, semudah itu kah?

Teringat ngendikan almarhum mbah Kakung.. Ojo dinehke senthong kiwo, dinehke senthong tengen wae..Sebuah kejadian jangan diletakkan di sisi hati yang kiri, letakkan di sisi hati yang kanan. Nasihat sederhana tentang cara memandang hidup.

Kualitas hidup seseorang ditentukan dari kata-kata. Kata-kata yang ia dapat dan kata-kata yang keluar darinya.

Tapi, sesederhana itu kah?

Lalu dimana letak sebuah proses?

Tidak ada manusia yang menjadi hebat seketika hanya karena kata-kata kan?

Butuh action disana.

MAKE YOUR OWN COLOUR OF YOUR LIFE.

Lalu apa yang menghalangi kita menciptakan sebuah warna?  Rasa malas. Malas untuk memulai. Sampai saat ini, aku menganggapnya sebagai sebuah jawaban yang paling tepat menggambarkan keadaan diriku. Malas.

Malas yang hadir dari sebuah rasa nyaman. Nyaman dengan keadaan yang seperti ini. Begini juga sudah hidup. Ngene wae yo uwis urip kok, hehe_ Nggak kesampaian keinginan yang itu juga gakpapa, begini saja sudah hepi.. Rasa syukur, pasrah, atau malas, terkadang aku sendiri tidak bisa membedakannya dengan jelas, haha.. Foolness.

Hmmm,,apa yang membedakan kita dengan manusia-manusia hebat yang pernah dicatat oleh kehidupan ini? Menurut penelitian, perbedaannya terletak pada deliberate practice. Menurut teori penelitian ini, orang-orang hebat mengalami kurang lebih 10.000 jam pembelajaran hebat dalam hidupnya. Ya, pembelajaran hebat dari sebuah pembelajaran kehidupan. Tentu saja faktor pembelajarannya akan sangat beragam, sangat ditentukan dengan lingkungan dan peran apa yang kita sandang saat itu. Benar, tidak ada orang-orang hebat yang tidak lahir dari sebuah pembelajaran hebat kehidupan.

Lalu ketika kita berbicara peran, peran apakah yang kita sandang saat ini? Teringat kata-kata mas servis komputer yang sempat bercakap denganku saat mereka mengantarkan komputer ke kosan. “Kami ini bisa apa mbak, bisanya cuma benerin printer.. asalnya juga dari desa.. dibandingkan dengan orang lain, peran kami ini hanya sekedar rumput teki.. rumput teki yang ada untuk diinjak-injak..” Sempat tertegun juga dengan kata-kata mas itu. Ada benarnya juga, di sistem masyarakat kita seperti sekarang ini, orang-orang seperti mereka memang sering dipandang sebelah mata. Masih untung tidak dianggap pengangguran, walaupun ketika senggang, mereka mengaku menghabiskan waktu dengan ngrokok dan ngobrol ngalor ngidul. Tapi apa iya, mereka layak untuk menyebut diri mereka sebagai rumput teki yang diciptakan hanya untuk diinjak-injak. Dan di akhir perbincangan rumput teki itu, aku hanya bisa berkata “semua manusia memiliki peran kan, maksimalkan saja peran yang kita miliki.”

Filosofi rumput teki dan rumput gajah. Akhirnya aku menyebut cara berpikir mas servis komputer itu dengan filosofi rumput teki dan rumput gajah seusai perbincangan malam itu. Rumput teki memang memiliki keterbatasan, rendah-tidak tinggi. Berbeda dengan rumput gajah yang bisa tumbuh sangat tinggi. Tapi, bukankah teki pun punya manfaat? Dan rumput gajah pun memiliki manfaat? Walau mereka tetap saja berbeda, rendah dan tinggi. Kodrat. Kodrat rumput teki dan kodrat rumput gajah memang tumbuh dengan cara seperti itu.

Sebenarnya apa yang membedakan orang rendahan dan orang petinggi ketika dipandang dari strata sosial? Mungkin yang nampak membedakan keduanya adalah kekuasaan atas sebuah pengaruh. Dehemnya petinggi itu bisa sangat menentukan nasib orang lain. Apalagi kata-katanya, lobinya, atau keputusannya, sangat mempengaruhi nasib banyak orang. Beda dengan tukang becak. Keputusan seorang tukang becak tidak akan berpengaruh banyak pada nasib orang lain, karena memang mereka tidak memiliki kekuasaan seperti yang dimiliki para petinggi. Sekali lagi, hal ini muncul ketika dinilai dari sudut pandang strata sosial.

Lainnya menurutku sama saja. Karena Allah itu adil. Allah meletakkan satu hati pada semua manusia. Satu organ yang mempengaruhi seluruh organ tubuh dalam bekerja. Dan satu hati itu juga yang akan berpengaruh pada nilai kehidupan seseorang. Pejabat itu hatinya cuma satu kan? Atau hatinya jadi tumbuh ada dua ketika naik pangkat? Sama saja kan dengan tukang becak? Semua manusia diberi jumlah hati yang sama oleh Allah. Satu. Adil.

Sebenarnya tidak penting, apa pekerjaan kita saat ini. Penjual sayur keliling, tukang becak, pembantu rumah tangga, mahasiswa, pegawai, tukang servis komputer, penjaga rel kereta api, pemulung, kenek, sopir, dan lain sebagainya. Yang terpenting adalah bagaimana kita melakukan pekerjaan kita itu. Sekedarnya, atau di atas rata-rata. Saat pemulung yang lain mampu melakukan A, maka kita sebagai pemulung hebat, melakukan pekerjaan memulung dengan nilai A+ atau bahkan A++. Dan tentu saja itu tidak mudah. Melakukan pekerjaan melampaui batas itu membutuhkan energi yang besar, lebih besar dari yang dilakukan oleh orang lain. Hasil yang di atas rata-rata, menuntut usaha di atas rata-rata pula.

Hingga kemudian kita akan bertemu dengan kata malas itu tadi. Belum lama ini, aku mengenal sebuah kata asing, HOMEOSTATIS. Menurut ilmu psikologi, homeostatis adalah sebuah sistem tubuh yang bertugas menjaga comfort zone. Kondisi nyaman berupa kebiasaan-kebiasaan dalam hidup kita yang seolah menjadi pola dan telah menyatu dengan kehidupan kita. Hingga saat kita berusaha menciptakan sebuah kebiasaan baru dalam hidup kita, maka homeostatis ini akan mengirim ANT-automatic negative touch.ANT bertugas mencari pembenaran atas comfort zone yang kita miliki guna mendukung fungsi homeostatis dalam menjaga keseimbangan tubuh. Homeostatis akan melakukan sabotase-sabotase atas kebiasaan baru yang kita miliki, entah kebiasaan baik maupun buruk. Homeostatis akan berusaha menyabotase semua kebiasaan-kebiasaan baru kita.

Hebat ya? Benar-benar pertarungan hebat dalam tubuh kita sendiri.. Kita melawan kita sendiri.. Sungguh lawan yang berat.. Hehehe_

SO, MAKE YOUR OWN COLOUR OF YOUR LIFE.

Seperti melukis pelangi.
Terang, rumit, dan nyata.
Indah.

It’s all about your beautiful mind.

Your act, your struggle to fight your self.

I know it’s not easy, coz it’s difficult for me surely.

Yang terpenting adalah jangan menjadi hebat ketika sendiri. Leak Kustiya seorang pengamat politik, pernah membuat catatan di Jawa Pos. Kurang hebat apa Gus Dur, kurang sakti apa Mega, saat bisa mengikis kerasnya batu orde baru. Tapi saat mereka duduk bersama sebagai Presiden dan Wakil Presiden, kerjanya hanya saling lempar dan memojokkan. Pun dengan kepemimpinan KIB jilid 1, kurang gagah apa SBY, kurang cerdas apa JK. Tapi saat mereka bekerja bersama, keduanya tidak pernah harmonis. Kisah “perceraian” mereka pun tidak kalah dramatisnya dengan perceraian Anang-KD di media massa. Lalu bagaimana dengan Budiono? Apakah Budiono ini juga tidak mau berperan sebagai ban serep dan kalah atraktif dari sang Presiden? Well, we’ll see.. Yang jelas, mereka berdua lah yang terpilih.

Sejarah mencatat, Susi Susanti, Yayuk Basuki, Chris John bisa membawa harum bangsa ini lewat prestasi mereka. Berjuang sendirian di kejuaraan dunia. Tapi pernahkah tim kesebelasan sepak bola kita mencatat sejarah selain kerusuhan dan perkelahian? Memang adakah sebuah korelasi disana? Watak bangsa ini kah? Hebat dengan syarat harus sendirian. Entahlah.. Tapi faktanya sejarah mencatat demikian

Pentingnya menyadari sebuah peran. Sekecil apa pun. Menjadi sosok yang hebat, tapi harus dengan satu syarat kondisi, yakni harus sendirian. Apa bisa dibilang hebat? Saat orang hebat itu kemudian menjadi lemah ketika masuk dalam sebuah kinerja tim, apa iya orang itu masih layak dibilang hebat? Mungkin saja memang masih layak.

Lalu sebenernya apa definisi orang hebat? Bukankah menjadi orang hebat itu melelahkan? Karena di saat orang lain menganggap kita tidak lagi hebat, maka kita akan melakukan banyak cara agar kembali dianggap hebat. Ah, bagiku menjadi orang hebat itu melelahkan.

Lebih baik menjadi manusia biasa saja. Dengan peran kecil yang kita miliki. Kesempatan ini lah yang hanya kita miliki saat ini. Yang terpenting bukan sebuah peran besar ato kecil, peran penting atau peran ban serep. Yang tepenting adalah bagaimana kita melakukan pekerjaan kita saat ini. Masih biasa saja kah atau diatas rata-rata kah?

Apa yang kau cari dalam hidup kawan? Aku mencari kebahagiaan. Dan kebahagiaan hakiki adalah saat dimana kita bisa membagi kebahagiaan dengan orang lain. Orang yang paling patut dikasihani di dunia ini adalah orang yang bahagia tapi ia tidak punya kawan untuk membagi kebahagiaannya. Orang lain akan berbahagia ketika kita bisa memberikan manfaat kepada mereka. Berbagilah kebahagiaan sekecil apa pun yang mampu kita bagi dengan orang lain, karena saat berbagi kebahagiaan, maka kebahagiaan kita tidak akan pernah berkurang sedikitpun. Namun sebaliknya. And I call it with, THE ART OF GIVING.

 

 

 

 

*27.10.2009 - 21:00

kamar kosan nakula I/76, with ocean drive-lighthouse family in my wmp..

the sun’s gonna shine on everything you do..”

 

Mengkritisi dengan Cinta

Filed under: Uncategorized — nurfita at 1:56 am on Monday, October 26, 2009

“menulis itu seperti bermain.. tulis saja, entah benar entah salah.. biarkan mereka membaca, dan tugas kita adalah menyiapkan ruang untuk banyak perbedaan.. menulis bukan ditujukan untuk dinilai sebagai orang hebat.. karena menulis bukan hanya milik mereka yang hebat.. tapi juga milikku, manusia biasa sepertiku..” (fita_chan!)

Sudahlah.Kata yang sering terlontar pada diriku sendiri, ketika semua tampak rumit.Birokrasi.Saat birokrasi tampak rumit dan berbelit-belit.Tersenyum getir sebenarnya ketika kalimat tentang birokrasi itu keluar dari diriku sendiri.Bagaimana pun juga, aku berada di dalamnya.Berada di dalam sistem birokrasi negeri ini saat peran civil servant itu kusandang sejak beberapa bulan yang lalu.Ya, pegawai negeri, pelayan masyarakat.

Saat pegawai negeri terbentur oleh sistem birokrasinya sendiri.Untuk keseribu kalinya aku membahas kuliahku.Aku tau, banyak orang sudah merasa bosan dengan tema ini.Tema yang muncul sejak setengah tahun yang lalu.“Sudahlah fit, lepaskan saja mimpi itu..” ada banyak orang memberi saran itu.Walaupun kami, anak-anak angkatan 2004 pemegang voucher d4 langsung, terus memperjuangkan semuanya hingga semua kemungkinan tertutup dan tidak ada celah yang bisa kami lewati lagi.“Kami memperjuangkan kebenaran,” itu kalimat yang kami pegang dalam perjuangan kami.“Lebih baik berjuang, daripada menyerah pada stagnansi.” kata Bobby.Kami memperjuangkan HAK kami yang dihanguskan begitu saja oleh sistem birokrasi negeri ini.

Ya, sistem.Sistem birokrasi.Dimana ada ring birokrat yang tidak dapat ditembus oleh fresh graduated seperti kami.Dimana ada kebijakan peraturan yang tidak dapat kami pahami sepenuhnya, maksud dan tujuannya.PMK-18.

Tidak ada yang salah memang ketika kita membaca peraturan menteri keuangan ini.Peraturan ini jelas-jelas ingin mengatur kebijakan tentang adanya tugas belajar.Regulasi yang dibuat untuk menjadikan departemen ini lebih baik dalam susunan kepegawaiannya.Tidak menggelembung di salah satu eselonnya.Eselon 3.Ya, tidak ada yang salah dengan PMK-18 ini ketika dipandang dari sudut susunan kepegawaian.

Tetapi ketika dipandang dari sudut pandang kesempatan belajar?Ah, entahlah.Tau apa aku tentang kesempatan belajar.Kuliah tanpa mengeluarkan uang sepeser pun untuk biaya pendidikan, lulus sebagai diploma 3 spesialisasi akuntansi pemerintahan tanpa harus bingung mencari pekerjaan pasca menyelesaikan kuliah, apakah itu tidak cukup kuanggap sebagai sebuah kesempatan belajar?Kesempatan belajar yang tidak bisa didapatkan semua orang.Itu yang harus selalu kuingat.

Lalu sakit hati ini?Kenapa harus sakit hati?Tidak ada pembelaan diri yang bisa kulontarkan untuk mewakili sakit hati ini.Apa salahnya menunda kuliah setahun lagi, dengan memperjuangkan semuanya dari awal?Lupakan semua perjuangan tiga tahunmu di kampus itu.Lupakan hasil ujian tes d4 langsungmu 2 tahun yang lalu. Mulai lagi dari awal.Mulai lagi dari awal.

“Kalau kalian benar-benar anak pintar, tidak ada salahnya kan ujian lagi dan memulai semuanya dari awal?”Kata-kata birokrat eselon 1 itu benar-benar seperti lecutan penyemangat bagi kami.Ya, apa salahnya memperjuangkan semua dari awal?Bukankah, kata mereka, kami adalah anak-anak pilihan negeri ini.

Anak-anak pilihan yang berasal dari seluruh pelosok negeri ini dengan bermacam-macam latar belakang daerah dan keluarga.Dengan berbagai macam logat bahasa dan budaya.Walaupun kami masih memiliki dua benang merah yang sama.Kami sama-sama berasal dari keluarga sederhana di kampung dan desa kami.Benar-benar sederhana, bahkan sangat sederhana, sampai-sampai hampir mayoritas dari kami mungkin tidak akan pernah mengecap bangku kuliah, andaikata kampus -tempat kami memperjuangkan harapan- itu tidak pernah ada.Persamaan yang lain adalah, kami sama-sama memiliki mimpi dan semangat belajar yang sama.

Anak kampung dan anak desa, dengan mimpi dan semangat belajar yang sangat besar.Mimpi dan semangat yang mampu membuat kami rela meninggalkan semuanya, bapak, ibu, kakak, adik, kawan-kawan sekolah, sanak saudara, kampung halaman, demi mengejar mimpi yang sama.Belajar untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Anak kampung dan anak desa mana yang tidak tergiur ketika di ibu kota sana, di Jakarta sana, ada sebuah kampus yang memberikan kesempatan kepada siapa pun untuk mengecap bangku kuliah, merasakan rasanya menjadi seorang mahasiswa, ditempatkan di departemen bergengsi di negeri ini – tanpa mengeluarkan biaya pendidikan sedikit pun.Siapa yang tidak tergiur?Anak desa dan anak kampung mana yang tidak tergiur?Orang tua mana yang tidak akan segan-segan menjual tanah dan sawah mereka, menggadaikan sertifikat rumah dan surat pengangkatan guru mereka, demi anak-anak mereka mengejar mimpi dan harapan di kampus impian itu.Satu-satunya kampus yang tidak memungut biaya kuliah saat universitas lain memungut biaya yang sangat tinggi untuk kesempatan belajar di sebuah kampus biru.Syaratnya hanya satu : lulus tes ujian saringan masuk.Sekali lagi, anak kampung dan anak desa mana yang tidak tergiur dengan iming-iming itu?

Dan terpilihlah sekian ribu anak kampung dan anak desa itu untuk mengecap bangku kuliah, merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang mahasiswa di sebuah kampus di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan.Dan ternyata kampus itu pun, tidak kalah sederhananya dengan kehidupan kami.

Tidak berpengaruh.Semangat belajar dan semangat mengejar mimpi anak desa dan anak kampung itu masih ada disana, masih sebesar yang dulu.Kesederhanaan kampus ini tidak menyurutkan langkah, karena di kehidupan sebelumnya, kesederhanaan sudah sangat bersahabat dengan kami.Apa bedanya kesederhanaan dengan minimnya fasilitas?Bagi kami tidak ada bedanya.Bersyukur, karena kata itu yang selalu kami kedepankan daripada kata kesederhanaan dan keterbatasan.

Profesionalitas sebuah kampus?Ah, terlalu muluk.Apalah artinya kata profesionalitas jika dibandingkan ilmu yang kami dapat dari dosen-dosen kami.Dosen-dosen yang membuat kami berdecak kagum dengan ilmu dan pengetahuan yang mereka bagikan kepada kami secara cuma-cuma.Tidak ada kekecewaan yang berarti saat kuliah dulu, jam kosong-dosen tidak datang-jadwal kuliah gabungan-pemadatan kuliah menjelang ujian-tidak pastinya jadwal kompre dan yudisium, tidak pernah kami anggap sebagai sebuah hal yang patut diributkan.Karena kami mencoba memahami posisi lembaga kampus kami yang sibuk mengatur dan menyusun jadwal kami, mahasiswa kampus STAN, yang jumlahnya ribuan.Dari diploma satu, tiga, dan empat.

Belajar, belajar, dan belajar.Kata-kata itu yang sering hadir dalam kehidupan kami.Ya, pikirkan saja belajar.Karena di kampus ini lah, kesempatan belajar itu kami dapatkan.Kawah candradimuka dimana anak desa dan anak-anak kampung itu bisa menjadi orang-orang besar.Menduduki posisi-posisi penting di jajaran birokrasi negeri ini.

Tapi..

Apa karena kesempatan belajar gratis itu kah kami tidak boleh berbicara?

Karena kesempatan belajar yang tidak didapat semua orang itu kah, kata nrimo ing pangdum benar-benar harus melekat pada kehidupan sehari-hari kami?

Seperti itu kah?

Katakan padaku..

Apakah sakit hati dan demonstrasi pada lembaga hanya milik mereka yang berpunya?

Hanya milik mahasiswa yang mampu membayar semua biaya kuliahnya?

Seperti itu kah?

Dan sekali lagi ijinkan aku bertanya..

Apakah anak kampung dan anak desa seperti kami tidak patut untuk didengar suaranya?

Tidak layak untuk menyampaikan opini dan pendapatnya?

Tidak patut untuk menduduki jabatan-jabatan penting di instansi ini?

Tidak punya hak memperjuangkan kesempatan belajar yang sama dengan mahasiswa kampus lain?

Seperti itukah akhirnya kami ditempatkan di jajaran birokrasi ini?

Berada pada level paling bawah dari piramida kepegawaian sebuah birokrasi..

Seperti inikah akhirnya nasib kami setelah kehidupan kami memang lebih baik secara materi?

Walaupun sejujurnya, bukan hanya materi yang kami kejar..

Kami bukan mahasiswa mental gratisan yang mengelu-elukan jabatan..

Tapi, seperti inikah kami layaknya diperlakukan?

Mungkin memang iya..

Walau kami ingin berteriak “TIDAK!”

Ya..

Kami akui..

Ada kesalahan-kesalahan dari pendahulu-pendahulu kami terkait dengan kebiasaan korupsi dan kolusi..

Kesalahan fatal yang membawa bangsa ini pada kondisi seperti sekarang ini..

Tapi apakah kami sebagai penerusnya tak mempunyai kesempatan untuk membayar kesalahan-kesalahan pendahulu kami?

Apakah kekecewaan itu sangatlah besar, hingga kami tidak memiliki hak untuk turut membangun bangsa ini dengan peran yang lebih baik?

Adakah kesempatan itu masih layak diberikan kepada kami?

Atau nilai trust itu sudah benar-benar hilang karena kesalahan masa lalu pendahulu kami?

Kami memang junior-junior mereka, lulusan dari satu kampus yang sama..

Tapi adilkah jika mental kami dipersamakan dengan mental mereka semua?

Adilkah jika kami harus ikut dipersalahkan dengan kebiasaan dan kesalahan mereka dulu?

Ah!

Tapi tau apa aku dengan arti kata adil..

Saat sebagian masyarakat bangsa ini mempercayakan materi mereka pada sebuah bank karena iming-iming bunga yang tinggi..

Dan kini mereka menuntut uang mereka kembali saat bank itu kini dituduh mencuri..

Adakah yang peduli?

Adakah yang menyebut bahwa mereka menuntut keadilan?

Keadilan yang mana?Keadilan menurut siapa?Keadilan dari sudut pandang yang mana?

Keadilan mana yang mereka tuntut saat semua orang tidak mau dipersalahkan dan bersikukuh berada pada pihak yang benar?

Allah,,

Bangsa ini bangsa besar, tapi sayangnya tidak semua masyarakatnya berjiwa besar.. pun dengan diriku..

Tapi salahkah jika kami ingin sama-sama berjuang demi sebuah perbaikan?

Katakan salah, jika kami memang salah..

Katakan benar, jika kami memang benar..

Katakan hitam adalah hitam, katakan putih adalah putih..

Rumit.Ya, semua tampak rumit.

Saat perjuangan mendapatkan kesempatan belajar yang sama -antara anak-anak lulusan STAN dengan anak-anak lulusan universitas lain di departemen ini- tampak rumit.

Saat dalam sebuah kebijakan ada invisible hand yang tidak pernah bisa terhindarkan dari sistem demokrasi Pancasila yang hanya dimiliki negeri ini..

Saat kami mencoba memahami bahwa tidak mudah bagi petinggi-petinggi negeri ini untuk membuat sebuah kebijakan yang dinilai adil bagi banyak pihak dan bukan golongan..

Conflict of interest, perbenturan kepentingan yang tidak pernah bisa dihindarkan dalam pembuatan kebijakan..

Saat semua tampak rumit.Yang bisa kami lakukan adalah memperluas cakupan berfikir.Mencoba memandang permasalahan dari sudut pandang yang jauh lebih luas.Melihat permasalahan negeri ini.Saat pembentukan kabinet KIB jilid 2 itu menilai banyak kontroversi.Memicu banyak komentar di kalangan para pengamat politik.Kami mulai menganggap bahwa permasalahan kesempatan belajar kami itu tampak sangat kecil.Itu hanya masalah sekelumit dari sekian banyak masalah yang ada di negeri ini.

Ya, bangsa besar ini memiliki banyak PR besar dan masalah untuk segera diselesaikan.Maka akan tampak mengherankan, jika kemudian wajah yang tampak pada orang-orang terpilih itu adalah sumrigah ketika namanya diumumkan sebagai salah satu menteri negeri ini.Bagian mana dari permasalahan bangsa ini yang bisa membuat mereka tampak sumringah? Saat amanah permasalahan ini dibebankan kepada mereka untuk diselesaikan.Atau mungkin mereka memang tidak melihat dari sudut pandang permasalahan, tapi dari sudut pandang yang lain.Entahlah.Tapi bagiku, permasalahan bangsa ini sangat banyak dan rumit.Butuh orang-orang cerdas namun telaten dan tekun untuk menyelesaikan permasalahannya satu per satu secara bijak dan cepat.

Ah, benar.Permasalahan kesempatan belajar ini hanya persoalan kecil dari permasalahan bangsa ini.Belum ada apa-apanya.Banyak masalah yang jauh lebih besar yang patut kita pikirkan.Seperti kata seorang kawan, apa yang akan dilakukan DJP ketika penerimaan pajak tahun 2009 ini tidak melampaui target?Tahun 2008 kita memiliki sunset policy, tapi tahun 2009?Bersiaplah terhadap semua kemungkinan terburuk yang ada, termasuk penghapusan semua fasilitas yang ada.Kata “modernisasi” itu memang harus dibayar dengan kinerja yang sangat hebat.Konsekuensinya tidak main-main.Modernisasi bukan sebuah kata “pemanis bibir” pembenaran adanya IPK.Camkan baik-baik..!!!Modernisasi menanggung konsekuensi dan tanggung jawab pekerjaan yang sangat besar..!

Aku dan kawanku hanya bisa tersenyum, ketika ia berucap “kita ini orang-orang kecil yang berpikir hal-hal besar.”Kami berdua bisa saja tertawa, menertawakan diri kami masing-masing.“Memang”, kataku dalam hati sembari tersenyum.Ya, tapi semua hal berawal dari pemikiran-pemikiran yang besar kan?Kadang kita memang hanya punya satu hal untuk bisa bertahan hidup, yakni OPTIMISME.Satu kata yang menciptakan semangat, mimpi, dan harapan-harapan yang luar biasa.Keterbatasan akan selalu menelikung.Konflik akan selalu mengikuti gerak langkah.Tapi kata om Masker, tugas kita sebagai manusia adalah mengusahakan takdir terbaik kita.Berusahalah sebaik mungkin lewat peran yang kita miliki saat ini, dan biarlah Allah yang berkuasa atas kalimat ajaib itu “KUN FAYAKUN.”

SEMANGAT PERJUANGAN, KAWAN!

Selalu ada awal untuk sebuah perjuangan, tapi tak pernah ada akhir.

Selama yang kita perjuangkan adalah kebenaran, yakinlah Allah selalu menyertai langkah perjuangan kita.

Proses dan hasil sama-sama bernilai penting, karena keduanya mengandung hikmah.Dan hikmah adalah satu-satunya hal yang dapat kita ambil dimana pun saat kebaikan tampak sangat sulit kita temui dalam kehidupan.

BERSEMANGATLAH, SEMOGA ALLAH MERIDHOI SEMUA LANGKAH KITA..

Amin,,7587x

*jogja, 25.10.09 - 11:28 @ kamarku yang dulu..

“melawan keterbatasan.. walau sedikit kemungkinan tak kan menyerah untuk hadapi hingga sedih tak mau datang lagi..janganlah berganti, tetaplah seperti ini..”a song from Ipang-Sahabat Kecil that’s playing in my wmp this afternoon..

Mencintai Kekecewaan

Filed under: semangadh !! — nurfita at 4:06 am on Monday, October 5, 2009

sudah.
kucukupkan sekian saja harapan itu.
nampaknya ada salahku dalam meletakkan harapan.

seharusnya dari awal kujaminkan semuanya pada Tuhan.
bukan angkuh dengan segala kemungkinan kepastian.

tak.
aku takkan menyalahkan siapa pun.
bagaimana pun juga mereka punya hak untuk menciptakan keadaan seperti ini.

kekecewaan adalah bukti bahwa aku masih manusia.
naluri gharizatul baqa’, keinginan mempertahankan diri lah yang menjadikan kecewa itu ada.
dan ini hanya sebuah mata rantai dari untaian panjang rantai kehidupan.

lalu kenapa musti ada hati yang justru bersorak dengan kekecewaan kami?
ah,,mereka pun juga orang-orang yang sempat kecewa.  dulu.
namun kekecewaan mereka tak nampak.
atau sengaja tidak dinampakkan.

sudah.
silakan bersenang dengan keadaan ini.
kini giliran kami yang mencoba bersenang atas kekecewaan ini.
apa yang menjadikan kekecewaan nampak buruk ketika ia tercipta dari sebuah fitrah?
fitrah seorang manusia yang memiliki keterbatasan berpikir dan kesalahan logika.

kekecewaan tidak pernah menjadi sebuah keburukan di tangan manusia benar.
the right man with the right dissapoinment.

kelak, aku akan tetap datang kesana.
dan satu hal yang patut diingat.
aku akan datang dalam keadaan yang jauh lebih baik dari keadaanku saat ini.
camkan baik-baik !!!

*siang hari, saat pertama kali SE pemanggilan itu muncul di kepegawaian

^untuk cemuwa lelaki, ayah, dan bapak di dunia ini^

Filed under: all a bout — nurfita at 1:23 am on Thursday, August 27, 2009

Suatu ketika ada seorang anak gadis bertanya kepada Ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat Ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut-merut dengan badannya yang terbungkuk-bungkuk, disertai suara batuk-batuknya.

Anak gadis itu bertanya pada ayahnya  :
“Ayah, mengapa wajah Ayah kian berkerut-merut dengan badan Ayah yang kian hari kian terbungkuk?”
Demikian pertanyaannya, ketika Ayahnya sedang santai di beranda.

Ayahnya menjawab  :
“Sebab aku laki-laki.”
Itulah jawaban Ayahnya.

Anak gadis itu bergumam  :
“Aku tidak mengerti.”

Dengan kerut kening karena jawaban Ayahnya membuatnya tercenung oleh rasa penasaran. Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak gadis nya itu, terus menepuk nepuk bahunya.
Kemudian Ayahnya mengatakan :
“Anakku, kamu memang belum mengerti tentang laki-laki.”

Demikian bisik Ayahnya, membuat anak gadis itu bertambah bingung.

Karena penasaran, kemudian anak gadis itu menghampiri Ibunya lalu bertanya :
“Ibu mengapa wajah ayah menjadi ber kerut-merut dan badannya kian hari kian terbungkuk? Dan sepertinya Ayah menjadi demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit?”

Ibunya menjawab  :
“Anakku, jika seorang laki-laki yang benar benar bertanggung jawab terhadap keluarga itu memang akan demikian.”

Hanya itu jawaban sang bunda.

Anak gadis itupun kemudian tumbuh menjadi dewasa, tetapi dia tetap saja penasaran.  Hingga pada suatu malam, anak gadis itu bermimpi. Di dalam mimpi itu seolah-olah dia mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali.

Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimat sebagai jawaban rasa penasarannya selama ini.

“Saat Ku-ciptakan laki-laki, Aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga, dia senantiasa akan menahan setiap ujungnya, agar keluarganya merasa aman teduh dan terlindungi. ”

“Ku-ciptakan bahunya yang kekar & berotot untuk membanting tulang menghidupi seluruh keluarganya. Dan kegagahannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh keluarganya.”

“Ku-berikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang berasal dari tetesan keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapatkan cercaan dari anak-anaknya.”

“Kuberikan Keperkasaan & mental baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah, demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari, demi keluarganya dia merelakan badannya basah kuyup kedinginan karena tersiram hujan dan hembusan angin, dia relakan tenaga perkasanya terkuras demi keluarganya & yang selalu dia ingat, adalah disaat semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih payahnya.”

“Ku berikan kesabaran, ketekunan serta keuletan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat & membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun di setiap perjalanan hidupnya keletihan dan kesakitan kerap kali menyerangnya.”

“Ku berikan perasaan keras dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai & mengasihi keluarganya, didalam kondisi & situasi apapun juga, walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya & melukai hatinya.  Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap.  Serta sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi & mengasihi sesama saudara.”

“Ku-berikan kebijaksanaan & kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan padanya untuk memberikan penyadaran, bahwa istri yang baik adalah istri yang setia terhadap suaminya, istri yang baik adalah Istri yang senantiasa menemani & bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada istri, agar tetap berdiri, bertahan, sejajar & saling melengkapi serta saling menyayangi.”

“Ku-berikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti bahwa laki-laki itu senantiasa berusaha sekuat daya pikirnya untuk mencari & menemukan cara agar keluarganya bisa hidup di dalam keluarga bahagia & badannya tang terbungkuk agar dapat membuktikan, bahwa sebagai laki-laki yang bertanggungjawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, keuletannya demi kelangsungan hidup keluarganya.”

“Ku-berikan kepada Laki-laki tanggung jawab penuh sebagai pemimpin keluarga, sebagai tiang penyangga, agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh laki-laki, walaupun sebenarnya tanggung jawab ini adalah amanah di dunia & akhirat.”

Terbangun anak gadis itu, dan segera dia berlari, berlutut & berdoa hingga menjelang subuh. Setelah itu dia hampiri bilik Ayahnya yang sedang berdoa, ketika Ayahnya berdiri anak gadis itu merengkuh dan mencium tangan Ayahnya.

“AKU BISA MERASAKAN BEBANMU, AYAH.”

Dunia ini memiliki banyak keajaiban, segala ciptaan Tuhan yang begitu agung, tetapi tak satu pun yang dapat menandingi keindahan tangan Ayah…

[FIN]

 

 

———————————————————–

dunia martians.
aku tak pernah paham dengan dunia mereka..
apa iya dalam dunia martians semua dinilai dari sudut kompetisi?
menang dan kalah?
seperti itu kah?

satu-satunya kaum adam yang kukenal dekat dan masih hidup sekarang ini adalah Bapakku..
(semoga Allah melimpahkan rahmat dan umur yang barokah kepada Bapakku - amin,,,7587x)

*quiz postingan kali ini :::  siapakah nama bapak anak gadis itu?^^

would you be kind enough to..

Filed under: chintakuwh ! — nurfita at 9:07 pm on Tuesday, August 25, 2009

Hanya ingin menulis. Lebih tepatnya menuliskan. Menuliskan apa yang ada di pikiranku saat ini.
“Dewasalah kawan.. Come.. Walk beside me.. And we’ll take that steps..”

Kalau tidak mau dibilang menipu diri sendiri, sebenarnya ini bukan kali pertama ajakan menikah itu datang. Dulu pun pernah hadir, pernah ada dalam hari-hariku yang lain. Tapi entah kenapa, bagiku, akhir-akhir ini ada sebuah ketidaknyamanan hati dan pikiran yang seakan it’s frightened me.

Dulu, aku bisa sangat cuek dan dingin dengan tawaran-tawaran itu. Sekali tidak, maka tidak. Dulu. Ya, itu dulu. Saat aku memang masih duduk di bangku sekolah atau kuliah. “Sekolah dulu..” selalu itu yang menjadi alasan. Usiaku pun masih dianggap dini -bagi masyarakat kebanyakan- untuk menapaki sebuah jenjang pernikahan.

Tapi manusia bertumbuh, bukan? Keadaan dan kondisi akan berubah seiring manusia itu bertumbuh. Pun dengan diriku. Tawaran-tawaran itu laiknya tak lagi mempan untuk ditolak dengan sebuah alasan “Sekolah dulu..” ataupun “aku masih terlalu kecil untuk melangkah kesana.”

Tahun depan usiaku sudah 23 tahun. Rasanya sudah tidak sepantasnya lagi aku menjadikan usia sebagai alasan untuk menolak sebuah tawaran. Walaupun hingga detik ini aku masih bersikukuh menjadikan studi sebagai pembenaran atas ketidakbersediaanku untuk melangkah bersama.
*hah! studi.. studi yang mana? memastikan bahwa kau memang benar-benar akan studi tahun depan saja, kau tak mampu fit! poor me..

Entahlah.
Aku pernah melontarkan kata itu dalam percakapan saat sebuah tawaran datang. Kata “entahlah” itu muncul karena secara tidak langsung aku diberondong pertanyaan atas ketidakbersediaanku melangkah, baik pertanyaan yang datang dari dirinya maupun justru dari pikiranku sendiri. Kini, sebisa mungkin aku menghapus kata “entahlah”. Setdaknya aku harus punya alasan yang bisa diterima banyak pihak atas ketidakbersediaanku. Bukan kata “entahlah” lagi yang keluar sebagai jawaban akhir yang menjadikanku berpredikat pecundang!

Sejujurnya bukan sekali dua kali aku merasa bahwa diriku memang seorang pecundang.
“Kau tidak berani mengambil risiko itu, fit!”
“Kau tidak dewasa-dewasa! Seperti anak kecil yang terus-terusan merasa nyaman dengan predikat anak manja itu!”
“NATO! No Action Talk Only! Berbuku-buku yang kau baca perihal pernikahan.. Dan buku-buku itu bukan bacaan sampah! Kau tau sebenarnya apa yang harus kau lakukan sebagai manusia yang tau ilmunya!”
“Pengecut!”

Ah… rasanya menyakitkan ketika kata-kata itu terlontar dari diriku untuk diriku sendiri. Tapi tak apa, toh siapa lagi yang lebih paham tentang diriku selain diriku sendiri. Pernah suatu kali, aku bertanya pada diriku sendiri “kau rindu menikah, fit?” Maka “tidak” atau “belum” menjadi jawabanku. Dan itu bukan jawaban yang menipu diriku sendiri. Sekali lagi, bukan. Aku memang belum merindukannya.

“Tapi kau tau kan fit, apa yang menjadi keutamaan dari sebuah pernikahan?”
“Ya. Dari buku-buku itu aku paham keutamaan menikah.”
“Lalu apa yang membuatmu tidak merindu?”
Bisa saja kujawab dengan kata “entahlah”, tapi aku berusaha tidak menggunakannya lagi sebagai alasan dan jawaban.

Ketidakdewasaan. Akhirnya kata itu yang akhir-akhir ini kuanggap sebagai jawaban. Apa yang menjadikanku berbeda dengan teman-teman yang lain? Ketidakdewasaanku. Sebuah kenyamanan yang kuciptakan sendiri ketika berkata bahwa “aku kan masih kecil..”, “aku kan gadis cilik..”, dan kalimat-kalimat sejenis yang menggambarkan betapa nyamannya diriku dengan sebuah ketidakdewasaan dalam diriku.

STOP! Hentikan! Waktu bermainmu sudah habis kisanak! Ya, kuputuskan untuk berubah. Sudah waktunya aku mulai mengarahkan sampanku pada cakrawala kedewasaan yang tiada pernah berujung itu. Aku paham bahwa aku tidak akan pernah bisa menjadi sosok dewasa yang sama persis dengan yang diinginkan banyak orang. Kedewasaan kuibaratkan seperti garis cakrawala yang tak berujung. Kedewasaan adalah proses yang tak akan pernah selesai sepanjang nyawa masih betah bersemayam dalam tubuh manusia. Everything needs time, doesn’t it? So do I. Namun setidaknya aku sudah memutuskan untuk mendayung sampanku kesana. Seperti apa riak air yang mengiringiku menuju cakrawala kedewasaan itu? Air surut kah? Gelombang pasangkah? Well, we’ll see..

Ketidaknyamanan lain yang timbul adalah ketika tawaran itu datang dari sahabat-sahabat terbaikku dan orang-orang yang kuhormati serta kukagumi. Haduwww,,, rumit sekali rasanya, kenapa jadi ada tawaran yang datang dari mereka, dimana aku menginginkan kami berteman baik saja. But i try to stand on the other shoes. Mencoba memahami posisi mereka. Posisi sebagai makhluk martians, kaum adam, lelaki, dimana awamnya mereka yang harus mengawali. Tidak seperti makhluk venusian, kaum hawa, yang awamnya duduk diam menunggu, menanti datangnya sebuah pinangan. Mereka tidak salah. Sama sekali tidak. Ya, memang seperti itulah lelaki. They have to make a step first, dengan mempertimbangkan segala risiko yang ada, ditolak-diterima-atau digantung (qqqqq, melly goeslaw mode.ON)

Hmmm.. aku mencoba memperlakukan mereka dengan perlakuan yang sama. Tanpa memedulikan faktor usia, latar belakang pendidikan, tingkat pemahaman agama, dan strata sosial. Aku berusaha adil, pikirku. Walau ternyata adil itu tidak semudah yang kupikirkan. Ada faktor relationship – pertemanan kami sebelum tawaran itu datang, ada faktor kecocokan watak, ada faktor hati, faktor ketokohan, kekaguman, dll, yang intinya objektivitas itu sulit tercipta dengan baik. Namun aku tetap menghargai mereka semua, mereka adalah lelaki yang datang dengan niat yang baik, berniat meminang dengan cara yang hanif.

Semua manusia memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi manusia yang lebih baik dihadapan Allah, dan untuk menjadi baik tidak perlu menjadi orang lain. Itu yang selalu kupegang dari dulu. Nilai diri seorang manusia, dilihat dari kemauan dan usahanya untuk berubah menjadi lebih baik. Pondasi yang kutanamkan baik dalah hati dan pikiran ketika menilai orang lain dan diriku sendiri. Karena kegiatan “menilai” adalah hak prerogrative setiap manusia yang terjadi begitu saja di luar kesengajaan. Otak akan bekerja menilai orang lain seketika itu juga saat kita bertemu dengan seseorang.

Perkara menjadi rumit ketika kata “menunggu” hadir dalam sebuah tawaran. Bukan aku yang menunggu -karena aku tak pernah sanggup menanti seorang fulan-, tapi mereka. Aku cuma bisa manyun menghadapi kenyataan seperti itu.
I said “let me go!”, he said “let it be me..”
I said “it’s over..”, he said “it’s time for a new hope..”
Selama kemungkinan itu ada, maka akan terus diperjuangkan.
Selama janur kuning belum melengkung, maka akan terus diusahakan.
STUBBORN! Hehehe,,

Sejujurnya, i can’t provide it all. Mungkin kau sanggup menanggung risiko menunggu itu, tapi aku yang tidak bisa menanggung risiko-risiko itu, baik menunggu maupun ditunggu. Jangan menciptakan sebuah ketidaknyamanan dalam relationship ini. Ketidaknyamanan untuk diriku, dan ketidaknyamanan untuk dirimu sendiri. Jika rindu akan sebuah pernikahan itu memang telah hadir menggelayut, melangkahlah bersama dengan yang lain.. Jangan menungguku.. God knows the best for us.. Dan tidak selamanya yang kita anggap baik, itu memang baik kan? Doa kebaikanku untukmu..

Saat muncul kata cinta, aku sebenarnya masih ragu tentang cinta itu sendiri. Ya, aku tau, titian itu akan semakin rapuh tanpa kata cinta itu. Tapi sejatinya aku memang mencari titian yang jauh lebih kuat dibanding titian berpondasikan cinta dengan lawan jenis itu. Call me STUBBORN too..

Awalnya aku memang ingin menyimpan jalan pikiranku ini untuk diriku sendiri saja. Tapi langkahku menjadi gontai, karena bagaimana pun juga aku harus mengakuinya. Mengakui kasalahan dan kekurangan yang ada pada diriku. Hingga akhirnya kuputuskan untuk menuliskannya disini. Apapun reaksi yang timbul dari tulisan ini, aku akan menerimanya. Apalagi ketika reaksi yang timbul berupa doa kebaikan untuk kita semua. Aku akan sangat menghargainya.

Andai kata, ada kata lain selain kata maaf yang bisa kukatakan..
Dengan segala kerendahan hati, akan kulakukan hal itu..
But i just can ask u for some apologize for my mistakes, my stubborness..
But i know, u’re a kind guy..
Would u be kind enough to forgive me..
Yang kuperlukan adalah sebuah penerimaan atas semua ketebatasan dan kekuranganku..
Aku pun hanya seorang manusia biasa..
Mata, kaki, dan tanganku tidak selamanya bersih..
Tidak selalu berada dalam jalan yang seharusnya ditempuh..
Let’s ride a ship call friendship..

Semoga pertemuan dan pertemanan kita barokah..
Masing-masing bisa mengambil hikmah dari kejadian yang telah lalu..
Dan semoga Allah menyederhanakan proses kehidupan kita selanjutnya..
Amin,,

Forgive me..
Then send me ur smile, would you be kind enough to..?

—————————————————-

*26.08.09 – subuh,
when adithia sofyan’s “adelaide sky” accompanied me to write it all

Makna Sebuah Titipan

Filed under: all a bout — nurfita at 10:16 pm on Sunday, August 9, 2009

Seringkali aku berkata, ketika orang memuji milikku, bahwa:

Sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa milikku hanya titipan Allah,
bahwa mobilku hanya titipan-Nya,
bahwa rumahku hanya titipan-Nya,
bahwa hartaku hanya titipan-Nya,
bahwa putraku hanya titipan-Nya,

tetapi mengapa aku tak bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
dan kalau bukan milikku,
apa yang harus aku lakukan untuk milik-Nya ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?

Ketika diminta kembali
Kusebut itu musibah
Kusebut itu sebagai ujian,
Kusebut itu sebagai petaka,
Kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
ku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
ingin lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.

Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
aku rajin ibadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti,padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…..

“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

 

 

——————————————————–

 

willibrordus surendra broto rendra/wahyu sulaiman rendra - 23 mei 2008

seperti chairil anwar, mas willy adalah salah satu penyair besar..
dan burung merak itu pun kini terbang..
dan kata-kata “tukang kata” itu akan tetap ada dalam catatan hari-hari..

^getting wiser^

Filed under: semangadh !! — nurfita at 12:51 am on Wednesday, August 5, 2009

Sepasang aktivis itu datang menemui saya dengan mata berbinar. Binar cinta yang bersemi di mushalla kampus dan bangku kuliah dan di arak-arakan jalanan demonstrasi untuk reformasi. Di tengah badai politik itu cinta bersemi.

Tapi cinta gadis keturunan Arab dengan pemuda jawa itu kandas. Kasih mereka tak sampai ke pelaminan. Restu orang tua sang gadis tak berkenan meneruskan riwayat asmara putih mereka.

Tragis. Tragis sekali. Karena di hati siapa pun cinta yang suci dan tulus seperti itu singgah, kita seharusnya mengasihi pemilik hati itu. Sebab itu perasaan yang luhur. Sebab perasaan yang luhur begitu adalah gejolak kemanusiaan yang direstui di sisi Allah. Sebab karena direstui itulah Rasulullah SAW lantas bersabda, “tidak ada yang lebih baik bagi mereka yang sudah saling jatuh cinta kecuali pernikahan”.

Islam memang begitu. Sebab ia agama kemanusiaan. Sebab itu pula nilai-nilainya selalu ramah dan apresiatif terhadap gejolak jiwa manusia. Dan sebab cinta adalah perasaan kemanusiaan yang luhur, mengertilah kita mengapa ia mendapat ruang sangat luas dalam tata nilai Islam.

Itu karena Islam memahami dahsyatnya goncangan jiwa yang dirasakan orang-orang yang sedang jatuh cinta. Tak ada tidur. Tak ada lelah. Tak ada takut. Tak ada jarak. Tak ada aral. Yang ada hanya hasrat, hanya tekad, hanya rindu, hanya puisi keindahan. Puisi adalah busur yang mengirimkan panah-panah asrmara ke jantung hati sang kekasih. Rembulan adalah utusan hati yang membawa pesan kerinduan yang pernah lelah melawan waktu.

Dua jiwa yang sudah terpaut cinta akan tampak akan menyatu bagaikan api dengan panasnya, salju dengan dinginnya, laut dengan pantainya, rembulan dengan cahaya. Mungkin berlebihan atau mungkin memang begitu, tapi siapapun yang melantunkan bait ini agaknya ia memang mewakili perasaan banyak arjuna yang sedang jatuh cinta: “separuh nafasku terbang / bersama dirimu”.

Bisakah kita membayangkan betapa sakitnya sepasang jiwa yang dipautkan cinta lantas dipisah tradisi atau apa saja? Tragedi Zaenuddin dan hayati dalam Tenggelamnya Kapal Vanderwick, atau Qais dan Laila dalam Majnun Laila, terlalu miris. Sakit. Terlalu sakit.

Karena di alam jiwa seharusnya itu mustahil. Tragedi cinta selamanya merupakan tragedi kemanusiaan. Sebab itu memisahkan pasangan suami-istri yang saling mencintai adalah misi terbesar syetan. Sebab itu menjodohkan sepasang kekasih yang saling mencintai adalah tradisi kenabian.

Suatu saat, Khalifah Al Mahdi singgah beristirahat dalam perjalanan haji ke Mekkah. Tiba-tiba seorang pemuda berteriak, “Aku sedang jatuh cinta.”

Maka Al Mahdi pun memanggilnya, “Apa masalahmu?”

Aku mencintai puteri pamanku dan ingin menikahinya. Tapi ia menolak karena ibuku bukan Arab. Sebab itu aib dalam tradisi kami.”

Al Mahdi pun memanggil pamannya dan berkata padanya, “Kamu lihat putera-puteri Bani Abbasiyah? Ibu-ibu mereka juga banyak yang bukan Arab. Lantas apa salah mereka? Sekarang nikahkanlah lelaki ini dengan puterimu dan terimalah 20 ribu dirham ini; 10 ribu untuk aib dan 10 ribu untuk mahar.”

 

 

 

muup ya om Anis.. kukopas lagiy..

^mau tidak mau toh aku akan melangkah kesana juga.. just prepare my self for that steps^

Catatan Pernikahan

Filed under: semangadh !! — nurfita at 2:50 am on Monday, July 27, 2009

Ketika Akan Menikah
Janganlah sekedar mencari istri tapi ibu bagi anak - anak kita.
Janganlah sekedar mencari suami, tapi ayah bagi anak - anak kita.

Ketika Melamar
Anda bukan sedang meminta kepada wali atau orang tua si gadis , tetapi meminta kepada Alloh melalui orang tua si gadis.

Ketika Menikah
Anda bukan menikah di hadapn penghulu tapi di hadapan Alloh.

Ketika Resepsi Pernikahan
Catat dan hitung semua tamu, yang datang untuk mendoakan anda….karena anda harus berfikir untuk mengundang mereka semua dan meminta maaf apabila anda berfikir untuk bercerai karena menyia - nyiakan doa mereka.

Sejak Malam Pertama
Bersyukurlah dan bersabarlah , anda adalah seorang anak manusia dan bukan sepasang malaikat.

Selama Menempuh Hidup Berkeluarga
Sadarilah bahwa jalan yang akan di lalui tidak melulu jalan bertabur bunga tapi juga semak belukar yang penuh onak dan duri.

Ketika Biduk Rumah Tangga Oleng
Jangan saling melepas tangan , tapi sebaliknya justru semakin erat berpegangan tangan.

Ketika Belum Memiliki Anak
Tetaplah mencintai istri atau suami.

Ketika Memiliki Anak
Jangan bagi cinta anda kepada suami / istri dan anak anda, tetapi cintailah istri atau suami anda seratus persen dan cintai anak - anak masing - masing seratus persen. Oleh karena itu, anda butuh stock cinta yang sangat besar… sehingga butuh dada yg lebih bidang untuk sesuatu yg sering menyesakkan.

Ketika Ekonomi Keluarga Belum Membaik
yakinlah bahwa pintu rizki akan terbuka lebar seiring dengan tingkat ketaatan suami dan istri. Tetapi jika ketaqwaan sudah ditingkatkan berlipat ganda, ekonomi belum juga membaik. Anggap saja ini taqdir Allah dan bersabarlah… jangan anggap pasangan sebagai pembawa sial.

Ketika Ekonomi Membaik
Hadza min fadhli Robbi. Jangan lupa jasa pasangan hidup yang setia mendampingi kita semasa menderita.

Untuk Anda Adalah Suami
Boleh bermanja - manja kepada istri tetapi jangan lupa untuk bangkit secara bertanggungjawab apabila istri membutuhkan pertolongan anda.

Ketika Anda Adalah Istri
Tetaplah berjalan dengan gemulai dan lemahlembut tetapi selalu berhasil menyelesaikan semua pekerjaan.

Untuk Mendidik Anak
Jangan pernah berfikir bahwa orangtua yang baik adalah yang tidak pernah marah kepada anaknya karena orangtua yang baik adalah yang jujur kepada anak.

Ketika Anak Bermasalah
Yakinlah bahwa tidak ada seorangpun yang tidak mau bekerjasama dengan orangtua, yang ada adalah anak yang merasa tidak di dengar orangtua.

Ketika Ada PIL
jangan di minum, cukuplah suami sebagai obat.

Ketika Ada WIL
jangan di turuti, cukuplah istri sebagai pelabuhan hati.

Ketika Memilih Potret Keluarga
Pilihlah potret keluarga sekolah yang dalam masa pertumbuhan menuju potret keluarga masjid.

Ketika Ingin Langgeng Harmonis
Gunakan Formula 6 K – Ketakwaan, Kasih sayang, Kesetiaan, Komunikasi Dialogis, Keterbukaan, Kejujuran.

 

 

 

*kopas dari postingan om A-HA FS

under jealousy sky

Filed under: chintakuwh ! — nurfita at 10:46 pm on Sunday, July 12, 2009

Apalagi yang tersisa dari ketampanan setelah ia dibagi habis oleh Nabi Yusuf dan Muhammad. Apalagi yang tersisa dari kecantikan setelah ia terbagi habis oleh Sarah, istri Nabi Ibrahim, dan Khadijah, istri Nabi Muhammad Saw? Apalagi yang tersisa dari pesona kebajikan hati setelah ia direbut Utsman bin Affan? Apalagi yang tersisa dari kehalusan budi setelah ia direbut habis oleh Aisyah?

Kita hanya berbagi pada sedikit yang tersisa dari pesona jiwa raga yang telah direguk habis oleh para nabi dan orang shalih terdahulu. Karena itu persoalan cinta kita selalu permanen begitu: jarang sekali pesona jiwa raga menyatu secara utuh dan sempurna dalam diri kita. Pilihan-pilihan kita, dengan begitu, selalu sulit. Ada lelaki ganteng atau perempuan cantik yang kurang berbudi. Sebaliknya, ada lelaki saleh yang tidak menawan atau perempuan salehah yang tidak cantik. Pesona kita selalu tunggal. Padahal cinta membutuhkan dua kaki untuk bisa berdiri dan berjalan dalam waktu yang lama. Maka tentang pesona fisik itu Imam Ghazali mengatakan: “Pilihlah istri cantik agar kamu tidak bosan”. Tapi tentang pesona jiwa itu Rasulullah Saw bersabda: “Tapi pilihlah calon istri yang taat beragama niscaya kamu pasti beruntung”.

Persoalan kita adalah ketidaksempurnaan. Seperti ketika dunia menyaksikan tragedi cinta Puteri Diana dan Pangeran Charles. Dua setengah milyar manusia menyaksikan pemakamannya di Televisi. Semua sedih. Semua menangis. Puteri yang pernah menjadi trendsetter kecantikan dunia dekade 80-an itu rasanya terlalu cantik untuk disia-siakan oleh sang pangeran. Apalagi Camila Parker yang menjadi kekasih gelap sang pangeran saat itu, secara fisik sangat tidak sebanding dengan Diana. Tapi tidak ada yang secara objektif mau bertanya ketika itu. Kenapa akhirnya Charles lebih memilih Camila, perempuan sederhana, tidak bisa dibilang cantik, dan lebih tua, ketimbang Diana, gadis cantik berwajah boneka itu? Jawaban Charles mungkin memang terlalu sederhana. Tapi itu fakta, “Karena saya lebih bisa bicara dengan Camila”.

Kekuatan budi memang bertahan lebih lama. Tapi pesona fisik justru berkembang di tahun-tahun awal pernikahan. Karena itu ia menentukan. Begitu masa uji cinta selesai, biasanya lima sampai sepuluh tahun, kekuatan budi akhirnya yang menentukan sukses tidaknya sebuah hubungan jangka panjang. Dampak gelombang magnetik fisik berkurang atau hilang bersama waktu. Bukan karena kecantikan atau ketampanan berkurang. Yang berkurang adalah pengaruhnya. Itu akibat sentuhan terus menerus yang mengurangi kesadaran emosi tentang gelombang magnetik tersebut.

Apa yang harus kita lakukan adalah mengelola ketidaksempurnaan melalui proses pembelajaran. Belajar adalah proses berubah secara konstan untuk menjadi lebih baik dan sempurna dari waktu ke waktu. Fisik mungkin tidak bisa dirubah. Tapi pesona fisik bukan hanya tampang. Ia lebih ditentukan oleh aura yang dibentuk dari gabungan antara kepribadian bawaan, pengetahuan dan pengalaman hidup. Ketiga hal itu biasanya termanifestasi pada garis-garis wajah, senyuman, dan tatapan mata serta gerakan refleks tubuh kita. Itu yang menjelaskan mengapa sering ada lelaki yang tidak terlalu tampan tapi mempesona banyak wanita. Begitu juga sebaliknya.

Itu jalan tengah yang bisa ditempuh semua orang sebagai pencinta pembelajar. Karena pengetahuan dan pengalaman adalah perolehan hidup yang membuat kita tampak matang. Dan kematangan itulah pesonanya. Sebab, setiap kali pengetahuan kita bertambah, kata Malik bin Nabi, wajah kita akan tampak lebih baik dan bercahaya.

 

 

written by ::: Anis Matta

———————————————————

i’ll let it burn my heart and my senses..
coz there’s never a jealousy sky without a sense called love..
ya.. jealousy is a sign of love.

solilokui

Filed under: all a bout — nurfita at 11:16 pm on Monday, July 6, 2009

hmmm..  ya.

ini sudah kesekian kalinya aku mengatakannya.

sudah terlalu sering.

hingga mungkin kau sudah bosan mendengarnya.

dan lidahku pun kelu untuk mengucapkan kata-kata itu lagi.

 

tujuh pesan itu sudah kukirimkan padamu.

berantai kalimat panjang sudah kusuguhkan padamu.

aku tak mampu untuk mengulangnya lagi.

menjelaskannya kembali.

 

ya..

aku lelah..

berulang kali aku ingin mundur.

tapi berulang kali pula hati ini sungguh berteriak tak mampu.

tapi apa yang membuatnya tak mampu?

apa?

karena apa?

kita bukan siapa-siapa.

bukannya awalnya memang begitu?

 

“lalu kau mau apa?”

entah..  selalu itu yang muncul sebagai jawaban.

manis memang, tapi aku tak sanggup.

 

bukan karena senses, kufu, dan masa lalu.

sungguh.

karena jika itu adalah alasannya.

sudah dari dulu kata shine itu tidak pernah hadir.

 

berlebihankah jika kukatakan aku ingin kembali pada Tuhanku..?

lalu dimana letak dosa itu?

sehingga aku harus kembali kepada jalan Tuhanku seolah melakukan sebuah kesalahan besar dalam hidup?

 

aku tak sanggup mengucap kata itu lagi.

walau ia tetap menari-nari dalam logikaku mengalahkan ego dan senses itu.

dan aku siap menerima resiko itu.

jengah dan ditinggal pergi.

 

 

*07.07.09 siang ini

untuk keseribukalinya pikiran itu datang, pergi, dan datang lagi

Next Page »